Viu Pitching Forum 2018 yang diselenggarakan sejak bulan Maret kemarin, telah berhasil memilih 10 finalis dari sekian banyak peserta yang sudah mengirimkan karya inspiratif-nya ke kami. Dimana ke-10 finalis tersebut nantinya akan mengikuti workshop profesional selama 5 hari (23 – 28 April 2018) bersama Nia Dinata dan juga mentor lainnya, serta akan mendapat kesempatan untuk mempresentasikan proposal proyek film impian mereka kehadapan para juri yang berisikan nama-nama besar di dunia film Indonesia!

 

Terimakasih untuk semua peserta yang sudah mengirimkan ide ceritanya, semoga tak pernah lelah untuk selalu berkarya. Dan berikut adalah ke-10 pemenang Viu Pitching Forum 2018 beserta karya mereka yang berhasil terpilih. Selamat untuk para pemenang!

 

“Gunardi”

GUN JACK merupakan seorang preman atau gali ternama di Yogyakarta dan juga ternyata anggota Badan Intelijen Negara (BIN). Suami dari DYAH sekaligus Ayah dari YUDHA dan WULAN. Keluarga Gun Jack tidak mengetahui identitas Gun Jack dengan jelas. Karena identitas itu dirahasiahkan bahkan untuk orang terdekat. Namun BUDI merupakan sosok yang mengenal Gun Jack dengan baik. Pertemuan BUDI dengan Gun Jack semasa kecil mengantarkan BUDI sebagai orang kepercayaan Gun Jack untuk menjaga keluarganya ketika Gun Jack sedang bertugas keluar kota. Sehingga BUDI semakin mengenal dekat keluarga Gun Jack. Wulan sering menanyakan kepada BUDI tentang sosok Gun Jack yang memiliki catatan kriminal akan tetapi memiliki kekuasaan dan berteman baik dengan para anggotan polisi. Wulan terus mencari tamu. Dalam pencarian identitas Gun Jack, Wulan sempat merasa kecewa dengan kenyataan-kenyataan yang Wulan temukan, bahkan Wulan pernah beranggapan bahwa Gun Jack adalah teroris. BUDI selalu meyakinkan Wulan bahwa Gun Jack adalah sosok ayah yang baik. Status Gun Jack sebagai preman atau gali membuat Gun Jack bersama kelompoknya yang bernama PSP (Partai Satuan Pandang) memiliki musuh dari anggota PBI (Partai Banteng Independen). Kondisi yang sering bersitegang antara urusan Gun Jack dengan pihak-pihak luar membuat keluarga Gun Jack terancam, terutama Wulan yag semakin ingin tau identitas Gun Jack yang sebenarnya. Gun Jack meninggal karena penyakit kanker kelenjar getah bening. Di masa terakhir hidupnyalah Wulan akhirnya mengetahui sosok Gun Jack yang sebenarnya. Bahwa sebenarnya Gun Jack telah banyak membantu orang lain, sosoknya sangat baik dan bisa memberikan perlindungan terhadap orang-orang di sekitarnya. Wulan sangat menyesali kecurigaannya selama ini terhadap Gun Jack. Wulan menangis di pemakaman Gun Jack sambil mengenalkan sosok laki-laki yang akan menikahinya 7 tahun setelah kematian Gun Jack.


Fanny Mardhotillah
22 Tahun
Medan
“Bonner”

ADI (27), pria dewasa namun dengan tingkat intelektual seorang kanak-kanak, tidak lagi dapat membendung hasrat biologis-nya untuk kawin. Adi dikucilkan anak-anak teman bermainnya di komplek rumah susun karena dianggap vulgar. Sementara ibu-ibu di rumah susun dipimpin oleh IBU SALIMAH (47) berkomplot untuk mengusir SUMI (27), seorang pelacur dari lingkungan tempat tinggal karena dianggap mengotori moral lingkungan mereka. IDA (50), ibu Adi, jengah dengan tuntutan Adi untuk kawin, akhirnya menemukan sebuah solusi yang dapat menyelesaikan masalah-nya dan Adi, Sebuah kesepakatan yang bisa menguntungkan semua pihak.


Marcellino Indrawan
34 Tahun
Jakarta
“Sweet Fighter”

Memiliki seorang Ayah sebagai mantan petarung MMA, membuat Dandy Dante alias Dante(27tahun) selalu ditinggal menikah oleh kekasihnya, karena diminta fokus berkarier di MMA oleh ayahnya,sehingga ia selalu sibuk berlatih MMA dengan keras di sasana milik ayahnya yang bernama Dantes Fight Camp, hingga akhirnya ia berhasil menjadi seorang petarung terkenal dan tidak terkalahkan.


Rendy Kurniawan Putra
30 Tahun
Jakarta
“Koas”

5 dokter muda memulai program kerja magang (koas) di rumah sakit yang sama. Predikat koas terbaik akan diterima kerja langsung di rumah sakit tersebut. Mereka memulai kompetisi untuk meraih predikat koas terbaik.


Lerryant Krisdy Gunanto Basuki
19 Tahun
Sukabumi
“Halustik”

Kanti yang keluar dari pekerjaannya di Bank Swasta mencoba mencari pekerjaan di tempat lain. Namun, sampai saat ini belom juga ada yang menerima lamarannya. Kanti mulai khawatir karena ia selalu gagal. Kemudian ia berniat membuka jasa konsultasi keuangan, namun tidak ada orang yang tertarik mengikuti seminar. Tabungannya pun makin menipis. Ia mendapat ide jasa konsultasinya diberi sentuhan spiritual, ketika dibawa temannya untuk menemui guru spiritual. Ide tersebuat berjalan lancar pada suatu saat ia dilema dan memutuskan untuk jujur identitas asli kepada muridnya.


Sally Anom Sari
37 Tahun
Bandung
“The Knocked Out Girl”

Pak Barja 55th,pemilik dan sebuah Sasana Tinju Sasana Macan& Arena& yang dulunya berjaya di tahun 80an. Sasana tinju terbaik di Jakarta, pada masanya. Tapi kondisi ekonomi yang buruk, membuat sasana tinju ini beralih menjadi gym tradisional, yang akhirnya pun harus kalah dengan sarana olahraga lain yang lebih modern. Dengan kondisi ekonomi yang semakin buruk Pak Barja berencana menjual Sasana Macan Arena kepada koh Aliong, yang akan menjadikannya LIONGMART, karena lokasinya yang strategis.Windy (21) perempuan muda putri sulung dari Pak Barja . Tidak setuju dan bersikeras untuk mempertahankan sasana tinju Ayahnya.Karena Sasana Ayahnya adalah legenda di dunia olahraga tinju nasional, bahkan petinju legendaris seperti Muhammad Ali saja pernah datang ke Indonesia dan berlatih disana sebelum bertarung dengan Frazier di Manila. Pak Barja lalu menantang Windy suntuk mencari Petinju baru agar bisa bertarung atas nama sasana Macan Arena pada sebuah turnamen dengan hadiah besar demi mendapatkan fresh money untuk biaya perawatan dan operasional MACAN ARENA. Kalu Windy tidak berhasil mendapatkan calon Petinju maka Macan Arena akan Pak Barja jual ke Koh Aliong. Windy lalu menerima tantangan Pak Barja. Dan Mulai mencari laki laki untuk dijadikan petinju!


Reka Wijaya
“Istri Negara”

Bagi Dian (25), pekerjaannya menjadi intelijen rahasia negara adalah hal paling membanggakan dalam hidupnya, apalagi mengingat ia bukan seorang intelijen sembarangan, tapi salah satu aset penting dalam program Dara, sebuah program intelijen negara yang melatih para aset-asetnya dalam ilmu penyamaran dan ilmu pemikat untuk dapat mendekati individual manapun dan mengambil informasi yang diperlukan. Dara sendiri terbagi-bagi menurut kedoknya masing-masing, beberapa diantaranya antara lain Dara Single, seorang Dara yang berkedok tanpa hubungan dan harus selalu menjaga dirinya seperti itu; Dara Single Parent, seorang Dara yang dengan kedok menjadi seorang orang tua tunggal tanpa suami; dan kedok Dian sendiri, Dara Bersuami, seorang Dara yang mempunyai suami seorang sipil. Semuanya dengan tujuan agar mereka dapat mendekati target mereka tanpa menimbulkan kecurigaan dan dengan kedok yang tak terpatahkan. Namun yang akan disadari Dian adalah tidak semudah itu menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga, apalagi dengan seorang pria yang belum yakin dicintainya, Aryo (28), seorang pria berhati baik yang mencintai Dian dengan tulus. Belum lagi ditambah Mama (55), ibu mertuanya yang tidak suka dengan Dian dan mempunyai misi pribadi tersendiri, yaitu mencari tahu tentang kecurigaannya kalau ada sesuatu yang salah dengan Dian. Di tengah-tengah situasi yang mengancam Indonesia, ketika Franz (70), mentor Dian, mendapat berita kalau sebuah sel sedang merencanakan aksi terbesar mereka, Dian mendapati dirinya tidak boleh gagal dalam misi pekerjaannya maupun kehidupan rumah tangganya, karena jika salah satu gagal.maka dua-duanya akan hancur.


Verdi Solaiman
43 Tahun
Jakarta
“Jane”

JANE (29 tahun) adalah seorang konselor di sebuah suicide prevention hotline. Ia bekerja setiap malam, menerima telepon dan berbicara dengan orang-orang depresi dan kesepian untuk membantu menyingkirkan keinginan bunuh diri dari benak mereka. Puluhan telepon selalu ia terima setiap malam, banyak yang menangis dan meluapkan kemarahan kepadanya, bahkan beberapa sudah hampir benar-benar melaksanakan niat mereka. Walaupun pekerjaannya berat dan melelahkan secara emosional, Jane tetap melakoninya karena keinginannya membantu orang-orang yang bermasalah dan merasa terpinggirkan. Di tengah rutinitas pekerjaan yang melelahkan, satu hal yang dapat menghibur Jane adalah JOHN, seorang pria yang ia kenal dari sebuah aplikasi dating. Telah berbulan-bulan lamanya mereka chatting dan saling mengenal, namun mereka masih belum pernah bertemu. Dia tidak pernah berhenti membayangkan pertemuan pertama dan masa depan hubungan mereka nantinya. Saat akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu, tanpa diduga Jane menemukan kesamaan yang signifikan antara John dan seorang pria depresi yang sering menelepon suicide hotline tempatnya bekerja. Ia menemukan tulisan blog lama John yang menyebutkan bahwa kedua orang tuanya telah meninggalkan dan melupakannya untuk mati sendirian, sama seperti yang selalu dikatakan oleh pria depresi tersebut. Kesamaan ini membuat Jane merasa tidak nyaman dan meragukan karakter pria yang belum pernah ditemuinya tersebut. Di tengah kebingungannya, Jane membatalkan pertemuan mereka secara sepihak. Meskipun Jane telah memilih untuk bekerja alih-alih bertemu dengan John, ia tidak dapat berhenti memikirkan keputusannya. Berbagai pertanyaan terlintas di pikirannya: apakah ia melakukan hal yang benar? Dan apabila memang John dan pria depresi tersebut adalah orang yang sama, mengapa Jane malah menolak dan menjauhinya? Bukankah ia bekerja sebagai konselor karena kepeduliannya terhadap orang-orang yang mengidap depresi? Saat itulah, telepon di atas meja Jane berdering. Betapa terkejutnya Jane saat mendengar suara pria depresi tersebut di ujung telepon. Terlebih lagi, pria itu berkata bahwa dia sedang bersedih karena seorang wanita yang ia sukai baru saja membatalkan pertemuan dengannya dan meninggalkannya. Jane yang semakin cemas dan bingung kemudian memberanikan diri untuk bertanya siapakah nama wanita yang baru saja meninggalkan pria tersebut. Jawaban pria tersebut menjelaskan segalanya. Sesuai dugaannya, pria depresi tersebut adalah John, dan ia sedang sedih karena Jane meninggalkannya. Jane diliputi perasaan cemas dan bersalah. Namun, kini ia harus tetap bersikap tenang dan profesional untuk menghentikan John dari keinginannya untuk bunuh diri.


Andhika Godwin
21 Tahun
Surabaya
“Manekkin Series”

Devi berambisi membuat grup teater yang seluruh pemerannya waria. Untuk mewujudkan hal tersebut Devi perlu ekstra bekerja keras untuk mendapat tim produksi, tim kreatif, juga peran pendukung. Latihan yang berat membuat satu persatu orang keluar dari tim. Tetapi perjuangan belom berakhir, dengan memanfaatkan set yang sederhana dan tim yang kecil mereka menuntaskan pementasan teater di Jakarta. Masalahpun datang silih berganti, sampai ketika satu anggota produksi meninggal dunia. Devi dan tim tetap mencari solusi untuk dapat tampil di Festival Teater Jakarta.


Rikky Muchammad Fajar
32 Tahun
Jakarta
“The Underdog”

Suatu hari Colley dihadapkan pada situasi yang membuatnya harus memutar otak, bagaimana dia bisa membantu kedua orang tuanya dalam biaya pindahan rumah padahal disaat yang bersamaan dia tidak memiliki pekerjaan apapun dan tidak memiliki uang sedikitpun di rekeningnya. Hingga pada akhirnya, sahabatnya yang bernama Arza, datang menawarkan sebuah solusi ; Sebuah kompetisi film berhadiah puluhan juta rupiah. Melihat kesempatan itu Colly tidak tinggal diam. Dia segera bergegas mempersiapkan keperluan shooting. Namun, semuanya tak semudah yang dibayangkan. Colly ingat bahwa dia tidak memiliki modal apapun untuk memulai produksi itu, ditambah ia ingin membuat sebuah film pendek musikal dimana, itu membutuhkan dana dan persiapan yang panjang . Berbekal nekad, produksi itu tetap berjalan. Dia membuka audisi bagi siapapun pihak yang ingin terlibat, dengan memfokuskan semangat indipenden dalam berkarya, dan mengusung keberagaman identitas yang ada, Colley berhasil mendapatkan setiap orang bertalenta emas dengan latar belakang berbeda, yang notabene justru merupakan orang orang yang diasingkan masyarakat atas identitas yang berbeda, pilihan hidup yang berbeda, untuk bergabung dalam timnya. Selama proses berjalan, drama pun terjadi. Intrik timbul antara Colly dan Arza karena disatu sisi Arza menyimpan rahasia bahwa dia telah diterima beasiswa film di luar negeri dan meninggalkan Colly seorang diri dalam menangani project itu. Perselisihan antara Colly dan Arza tak dapat terelakan, kedua sahabat yang seharusnya berkawan baik berubah menjadi saling diam. Proses produksi terhenti, dan submisi film sudah ditutup. Kesempatan menang pun pupus. Lagi lagi Colly dihadapkan pada kondisi sebagai orang yang gagal. Impiannya untuk membantu kedua orangtuanya pupus sudah. Ditengah perselisihan itu para talent yang merasa telah dibantu oleh Colly untuk menjadi lebih percaya diri, dan gigih, merasa sangat berterima kasih pada Colly. Meskipun dia tidak berhasil membawa mereka pada tujuan akhir, tapi perubahan positif yang mereka dapatkan selama proses telah membuat hidup mereka menjadi lebih berarti, sehingga mereka tidak lagi sendiri. Mereka menyusun rencana agar Colly dan Arza dapat berbaikan. Sebuah film testimoni dibuat, dan disebar, lalu menjadi suatu hal yang viral, yang ternyata juga memiliki impact positif untuk banyak orang. Colly dan Arza kembali dipertemukan . Komunikasi antara keduanya mampu menghancurkan tembok ego mereka masing masing. Kegagalan yang Colly terima pada akhirnya justru menjadi sebuah motivasi bagi Colly. Bahwa biarpun dia tidak memenangkan uang tersebut, tapi dia telah berhasil mengubah dan menyentuh hati banyak orang dengan semangatnya untuk tetap terus berkarya dan menjadi dirinya sendiri. Hal itupun diungkapkan oleh kedua orang tua Colly, yang merasa bangga akan tindakan Colly. Berpisahnya Colly dan Arza, mengakhiri kisah ini. Dengan semangat untuk tetap terus mengejar mimpi, mereka berdua berjanji akan bertemu kembali untuk berkarya suatu hari nanti.


Richardo Franciscolli
About the Author: Viu
Dramas and movies enthusiast. Passionately bringing best content and latest information of series and movies to Viuers.