Halo Viuers, bagaimana liburan kamu di Lebaran tahun ini? Buat kamu yang nggak bisa ikut bergabung dengan keseruan mudik kali ini, nih ada satu film Indonesia spesial buat mengobati kekecewaan kamu. Mudik Lebaran, film komedi Indonesia yang ditayangkan di viu.com dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri ini adalah film Indonesia yang bertajuk komedi namun sarat akan makna di dalamnya.
Film yang dirilis pada 8 September 2011 silam ini cukup menggambarkan keresahan-keresahan sebagai rakyat Indonesia dengan tradisi mudik atau pulang kampung pada saat Hari Raya tiba. Pemeran utama film ini adalah Irwansyah yang berperan sebagai Gunadi, dan di dukung oleh aktor dan aktris Indonesia lainnya seperti Wiwid Gunawan yang memerankan Wulan, aktor senior kawakan Ray Sahetapy yang memerankan Kuncoro, Melly Zamri sebagai Yustina, Irvan Penyok sebagai Martono teman kos sekaligus ipar dari Gunadi, Leroy Osmani sebagai Iskandar, dan Sonya sebagai Lestari yang merupakan calon istri tokoh utama, Gunadi.
Film ini menceritakan mengenai Gunadi yang merupakan seorang perantau yang merasa dirinya tidak beruntung. Ia sudah merantau di Ibukota selama 3 tahun namun nasib sial masih terus menghampirinya hingga ia terus menganggur selama 3 tahun itu. Padahal bapaknya meminta agar Gunadi pulang kampung pada Lebaran tahun ini. Hal ini tak lain dan tak bukan karena Gunadi telah menggantungkan seorang gadis bernama Lestari. Ia harusnya sudah menikahi Lestari kalau ia memiliki uang. Namun, orangtua Lestari walaupun sudah merestui memberikan syarat mas kawin yang banyak. Sementara hidup Gunadi masih tidak menentu.
Secara keseluruhan sebenarnya film ini tidak hanya menceritakan proses Mudik Lebaran dari tokoh Gunadi. Konflik Mudik Lebaran juga dihadapi oleh keluarga Iskandar. Iskandar adalah seorang pejabat di Kementrian Sarana Publik. Ia dipusingkan dengan tradisi mudik yang harus dilakukannya, karena ia dicap sebagai orang sukses di desanya di Wonisalam, Yogyakarta. Tiap tahun ia harus menggelar open house dan menyediakan Kurma Arab (yang dibelinya di Tanah Abang) juga seperangkat alat sholat untuk seluruh warga di desa-nya.
Kisah Mudik Lebaran lain dialami oleh Martono. Tetangga kos sekaligus ipar dari Gunadi. Ia diminta istrinya pulang ke Wonogiri sejak awal puasa. Namun ia menolak. Ia berfikir bahwa Ramadhan adalah saat yang tepat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, apalagi istrinya sedang hamil tua dan membutuhkan banyak biaya.
Lain lagi masalah yang dihadapi oleh pasangan suami istri Kuncoro dan Yustina. 8 kali Lebaran berturut-turut Kuncoro selalu mengajak mudik keluarganya ke Jawa Tengah. Padahal Yustina juga ingin merasakan mudik di kampung halamannya di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Kembali lagi ke masalah Gunadi, ia berusaha keras agar mendapat modal mudik dan mas kawin. Akhirnya ia bekerja menjadi sopir keluarga Iskandar. Konflik muncul ketika Gunadi dituduh menyalahgunakan kepercayaan Iskandar karena menggunakan mobil untuk berpergian bersama Wulan. Padahal saat itu Gunadi hanya membantu Wulan yang diusir oleh suami kontraknya. Gunadi pun hanya bisa menelan pil pahit karena hanya mendapat pesangon sebanyak Rp.200.000.
Walaupun film ini dikemas dengan unsur komedi yang cukup segar, namun mampu menghadirkan banyak makna yang bisa dipetik. Film ini memang terlihat seperti cerminan kehidupan para perantau di kota besar. Ya.. momen Mudik Lebaran bukan hanya sebuah perjalanan dari kota besar ke kampung halaman saja. Namun sebuah pembuktian diri dan identitas diri. Mudik memiliki cerita lain di balik berkumpulnya keluarga di kampung pada momen Lebaran. Pada dasarnya, mudik merupakan sebuah ujian kesabaran dan penyerahan diri kepada Tuhan.
Gimana Viuers, adakah dari kamu yang mungkin memiliki kerabat bernasib sama dengan para tokoh di film ini? Lalu, apa yang terjadi yah dengan Gunadi, Iskandar, Martono, Kuncoro dan Yustina? Daripada penasaran, yuk habiskan sisa waktu libur kamu dengan nonton film Indonesia.


