
Banyak yang penasaran, aksara apa yang digunakan di Lovers of the Red Sky? Karena, di beberapa adegan dalam drama Korea ini ditampilkan tulisan yang sekilas seperti aksara kanji Jepang. Mana aksara Korea, yang selalu menampilkan bentuk lingkaran dan garis yang menjadi ciri khas?
Ayo, kita telusuri sejarahnya.
1. Tiga bangsa, satu leluhur

Menurut penelitian, sebenarnya bangsa Cina, Korea, dan Jepang mempunyai leluhur yang sama. Maka, jangan heran kalau ada suatu masa ketika aksara ketiganya juga mirip satu sama lain. Walaupun mirip, jika tinggal di wilayah yang berbeda, tutur bahasa mereka juga akan berbeda. Begitu juga pada aksara dan cara penulisannya.
Perbedaannya terletak pada bentuk dan kata. Hanzi adalah bahasa Cina yang ditulis dengan aksara Cina yang memiliki karakter kompleks. Di Korea ada hanja, yaitu bahasa Korea yang dituliskan dengan aksara Cina, tapi ternyata tidak semua bahasa Korea bisa ditulis dalam aksara Cina. Sedangkan kanji adalah aksara Cina yang dipakai di Jepang. Selain aksara kanji, Jepang juga memiliki aksara hiragana dan katakana. Hiragana memiliki garis-garis melengkung, sedangkan katakana terdiri dari garis lurus dan miring dengan kombinasi sederhana.
2. Terciptanya aksara hangeul

Hanja menjadi aksara yang dikenal pada era Joseon, digunakan untuk menulis perintah raja, surat-surat penting, dan buku-buku. Yang bisa menulis dan membaca dengan aksara hanja hanya para pelajar, cendekiawan, dan bangsawan. Situasi ini terjadi sampai saat Raja Sejong berkuasa. Ia salah satu raja yang terkenal dari Dinasti Joseon. Sampai sekarang ia dikenal sebagai raja yang juga seorang ilmuwan dan budayawan.
Pada 1443 Raja Sejong berhasil menemukan dan menciptakan aksara yang terdiri dari 10 vokal dan 14 konsonan. Ia namakan aksara itu hunminjeongeum. Artinya, suara yang tepat untuk rakyat. Kemudian namanya disederhanakan menjadi hangeul, yang artinya ‘alfabet agung’. Hangeul merupakan aksara fonetik. Tak serumit bentuk aksara Cina, aksara hangeul lebih sederhana, banyak paduan dalam bentuk lingkaran dan garis lurus.
3. Hangeul ditolak orang pintar

Di masa itu membaca dan menulis hanya dikuasai kalangan tertentu. Dengan diciptakannya aksara hangeul yang mudah dipelajari, Raja Sejong berpikir, pasti makin banyak rakyatnya yang bisa membaca dan menulis. Atas perintah Raja. aksara ini dianjurkan untuk mulai digunakan di seluruh wilayah kerajaan. Namun, banyak pelajar, cendekiawan, dan bangsawan yang tidak mau menggunakan aksara ini. Karena mudah dipelajari, hangeul dianggap aksara untuk wanita.
Mereka menganggap, aksara hanja yang rumit bisa menjadi ukuran kepandaian dan tingkat sosial. Karena aksara hangeul mudah dipelajari oleh siapa pun, termasuk rakyat jelata. Mereka merasa derajat mereka tidak layak disamakan dengan rakyat biasa. Untuk sekian lama, aksara hanja masih digunakan pada karya dan buku-buku.
Kalau diamati, di serial Lovers of the Red Sky tulisan-tulisan yang digunakan adalah hanja, bukan hangeul. Mungkin saja cerita ini dibuat seperti masa Dinasti Joseon, aksara hangeul belum ditemukan.
4. Kelahiran kaligrafi Korea

Seiring dengan lahirnya aksara, dipelajari juga seni menulis indah atau kaligrafi. Di Korea dikenal dengan istilah seoye. Sama seperti aksara, seoye pun merupakan salah satu budaya Korea yang berasal dari Cina, yang sudah mengenal kaligrafi lebih dulu, yaitu sejak zaman Tiga Kerajaan. Pada awalnya, seoye menggunakan aksara hanja. Namun, lama-kelamaan teknik dan gaya penulisan seoye makin berkembang pada zaman Joseon.
Seoye biasanya mengandung tema atau pesan dari ajaran konfusius atau Buddha. Seoye hanya dikuasai oleh para pelajar, cendekiawan, dan kaum bangsawan. Karena, hanya merekalah yang mampu bersekolah dan seni menulis indah ini menjadi pelajaran wajib yang harus mereka kuasai.
Untuk membuat seoye, setiap pelajar harus memiliki munbangsau (empat harta karun dalam belajar), yaitu:
- But: kuas bulu dalam berbagai ukuran. Batang kuas terbuat dari batang bambu.
- Meok: Batangan tinta, terbuat dari kayu pinus yang dibakar dan dicampur dengan minyak lemak rusa. Warna yang dihasilkan adalah hitam.
- Byeoru: Batu tinta yang digunakan untuk menggosok batang tinta.
- Jongi: Kertas seperti papyrus yang digunakan sebagai media menulis dan melukis.
5. Cara membuat seoye

Pada episode 5 – 6, dalam adegan perlombaan melukis yang diadakan oleh kerajaan, bisa dilihat bagaimana selembar kertas yang lebar dibentangkan. Di ujung-ujungnya diberi pemberat agar permukaan kertas tetap rata dan mengurangi risiko terlipat akibat tertiup angin. Kamu perhatikan tidak, saat Pangeran Yangmyeong (Gong Myung) menorehkan tinta, menulis tema lomba lukis yang harus dipahami oleh para peserta.
Sebelum menorehkan tinta di atas kertas, batangan tinta (meok) harus digosok-gosokkan perlahan dengan gerakan memutar pada batu tinta (byeoru) yang sudah diisi sedikit air. Warna tinta akan berubah menjadi hitam pekat. Tinta itulah yang membasahi bulu pada kuas.
Cara memegang kuas pun harus tegak dan digoreskan dengan lembut agar tulisan indah dan rapi. Setelah selesai, kertas dibentang agar bisa dibaca oleh orang-orang yang hadir.
Nonton Streaming / Download Lovers of the Red Sky Sub Indo di Viu
Viu Original Lovers of the Red Sky tayang secara eksklusif di Viu setiap Senin dan Selasa, mulai 30 Agustus 2021. Jangan lewatkan untuk nonton streaming atau download Lovers of the Red Sky sub Indo di Viu sekarang!
Yuk nonton Lovers of the Red Sky sub Indo sekarang!



